Rabu, 09 Desember 2009
Kisah Bapak Blogger dan Twitter: Evan Williams
Dulu orang berkata, alangkah kasihannya anak muda itu. Kuliahnya tak tamat. Kerja luntang-lantung. Hidup pun dia harus berpindah-pindah dari Nebraska, Florida, dan Texas, California, untuk mencari kerja. “Setiap musim panas saya harus mengairi tanaman,” kata Evan Williams. Itu 10 tahun sebelum namanya berkibar sebagai pendiri Blogger.com dan Twitter.com.
Sekarang 55 juta pengguna Twitter dan puluhan juta pengguna Blogger akan berterima kasih kepada anak muda ini. Twitter dan Blogger telah menjadi denyut rutinitas sehari-hari. Siapa sangka dia begitu berpengaruh. Perusahaan-perusahaan hebat, seperti IBM, Dell, dan Jetblue, pun memakai Twitter–peranti pengirim pesan yang berisi 140 karakter. Petenis kondang Serena Williams, musisi John Mayer, sampai sutradara Joko Anwar serta pendeta-pendeta di Amerika banyak yang kecanduan Twitter. Bahkan pemilu di Iran pun bisa ditekan dunia internasional berkat Twitter–peranti yang tak bisa diblok pemerintah Iran.
Siapa sangka temuan ini lahir dari pemuda yang mengaku hidupnya berantakan. Sepuluh tahun hidupnya adalah sepuluh tahun yang sia-sia. Pada 1994, selepas SMA dia hidup bergantung pada kebodohan orang terhadap Internet. Saat Internet mulai tumbuh–apakah Anda sudah kenal Internet saat itu?–Williams memproduksi CD-ROM. Isinya video tentang cara menggunakan Internet. Dia juga menyewakan server untuk web hosting.
Tapi William bukanlah Soicihiro Honda, kapitalis Jepang pintar membuat bisnis mobil Honda. Williams merekrut beberapa temannya dan bermimpi menjadi konglomerat. Tapi ternyata temannya tak pintar mencari uang. Segudang “penyakit” pengusaha amatir melekat padanya. “Saya tak bisa bernegosiasi, kehilangan fokus, dan tak punya disiplin,” kata Williams. Bisnisnya amburadul. Sampai-sampai dia punya utang pajak dan membuat karyawannya marah.
“Hidup saya adalah rangkaian orkestra kecelakaan,” ujar Williams. “Saya selalu mengidap halusinasi optimisme yang akut.” Pernah, dia sampai melek semalam suntuk di perusahaan pertamanya. Tapi esoknya dia kebingungan mencari recehan yang tersisa sekadar untuk sarapan.
Sejarah mulai berpihak kepadanya setelah akhirnya dia bekerja di O’Reilly Media pada 1997. Ia mulai belajar teknik membuat web. Penyakit halusinasi optimistis menghinggapinya lagi. Dia melahirkan Pyra Labs dengan temannya, Meg Hourihan, membuat proyek Blogger, sebuah teknik mudah untuk membuat web. Enam tahun kemudian, situs itu dibeli Google dan dia bekerja selama dua tahun untuk Goliath Internet itu.
Sejak itu hidup William senikmat orkestra. Dia lalu mengajak Jack Dorsey–insinyur di perusahaan barunya, Odeo. Mereka mendirikan Twitter. Dorsey sejak dulu memang terobsesi pada status. Tapi bukan status sosial. Dia terobsesi melahirkan peranti yang memungkinkan orang membaca status komputer. Contohnya, “Habis dimarahi bos”, atau “Rindu pada tom yam gung”.
Twitter tiba-tiba saja menjadi demam baru di Amerika Serikat, menyusul kesuksesan Facebook. Sekarang pengguna Twitter sudah 55 juta orang. Bahkan, saat Barack Obama hendak dilantik pun, dia–atau mungkin orang suruhan dia–sempat menulis status di Twitternya. “Terima kasih telah mempercayakan amanah kepada saya.” Para pakar Internet juga memprediksi, “Twitter adalah koran masa depan, karena status pengguna adalah berita.”
Kini anak luntang-lantung itu telah memetik sukses. Meski belum untung, Twitter telah meraup US$ 55 juta atau Rp 0,5 triliun dari investor. “Ibu saya sekarang tak khawatir lagi, terutama sejak saya menikah 1,5 tahun lalu.”
Sumber: http://blog.tempointeraktif.com/digital/orkestra-kecelakaan/
Kamis, 05 November 2009
Evan Williams: penemu istilah 'Blogger' dan Twitter
Siapa yang berani menyalahkan Evan Williams. Para konglomerat yang telah menggelontorkan ratusan dolar pun tak sanggup menyalahkan Williams.
Ia masih belia. Usianya baru 37 tahun. Sejarah Internet sudah dua kali menulis namanya dengan tinta emas. Dialah penemu istilah “blogger” sekaligus pencipta situs Blogger.com–yang akhirnya dibeli Google. Dia pula peletak fondasi situs mikroblog, yang cuma mengandalkan komunikasi dengan 140 huruf, yakni Twitter.
Sudah tiga tahun, sejak Williams dan Biz Stone mendirikan Twitter pada 2006, Twitter belum mencetak uang. Tapi itu tak membuatnya panik setitik pun.
“Ini menggelikan,” kata William dengan tawa renyah. “Semua orang bertanya, bisnis macam apa ini.” Tiga tahun bekerja, tiga tahun menyedot perhatian puluhan juta pengguna, tapi mereka tak menghasilkan uang. Kalau orang Betawi melihat bisnis dua lelaki yang tak lulus kuliah itu pasti geleng-geleng dan berkata. “Bahkan jualan kambing bandot pun lebih jelas model bisnisnya.”
Tapi Twitter jelas bukan bisnis ala pedagang kambing akikah. Hari ini memborong kambing, besok atau lusa melegonya. “Mencetak uang bukanlah prioritas tertinggi jika Anda membangun bisnis dengan nilai yang bisa bertahan dalam jangka panjang,” kata William.
Selama tiga tahun berdiri ini, Twitter lebih terlihat sebagai sensasi kultural ketimbang sebuah bisnis. Twitter telah meraih 55 juta pelanggan–lima negara terbanyak penggunanya adalah Amerika Serikat, Inggris, Brasil, Spanyol, dan Indonesia (sungguh mengejutkan!). Mereka berkomunikasi dari urusan remeh-temeh, seperti @sherinamunaf (ini nama akun di Twitter) yang asyik meledek pacarnya @radityadika, sampai urusan gempa di Padang, protes di Iran, dan bantuan untuk banjir di Filipina. Williams dan Stone tak terlihat terburu-buru menyulap situs itu menjadi mesin uang.
Mungkin Williams dan Stone mengikuti jejak Google. Goliath Internet itu selama bertahun-tahun tak jelas model bisnisnya. Memasang iklan baris–betapa kunonya sebenarnya dibandingkan dengan iklan banner ala Yahoo!–selama bertahun-tahun tanpa tujuan yang jelas. Google juga membeli situs blog, Blogger, milik Williams walau tak ada pengiklan yang mau pasang. Sebelum mereka untung, Google akhirnya meraih kucuran modal ventura sebesar US$ 25 juta (sekitar Rp 235 miliar) pada 1999.
Prestasi Twitter lebih baik daripada Google pada 1999. Saat ini mereka telah mendapat gerojokan modal US$ 100 juta (Rp 940 miliar). Para pemodal itu ternyata juga tak kalah “gendeng”. Mereka tak meminta Twitter segera untung. “Saya lebih tertarik memikirkan bagaimana kami meraih 100 juta atau lebih pelanggan ketimbang berpikir cara mendapatkan uang,” kata Fred Wilson, pemilik Union Square Ventura, sekaligus pendukung pertama Twitter. Wow, betapa nikmatnya.
Mengapa di Indonesia tak banyak orang “gendeng” yang berani membiayai inventor-inventor belia seperti di Negeri Abang Sam sono, ya? Seandainya di Indonesia ada orang seperti Fred Wilson ataupun pemodal-pemodal yang membiayai Bill Gates atau Steve Jobs, Indonesia tak akan cuma jadi “target pasar” inovasi seperti Microsoft, Facebook, dan Twitter. Situs koprol.com mungkin bisa seterkenal Twitter. Pesta Blogger 2009 akan penuh anak-anak muda dengan otak brilian.